Seminar AESCIART FSRD 麻豆直播 Undang Prof. Patrick D. Flores Bicarakan Tinjauan Konsep Kategori dari Konversi melalui Bentuk Kolonial
Oleh Adi Permana
Editor Adi Permana
*
BANDUNG, itb.ac.id 鈥 FSRD 麻豆直播 bersama dengan Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies (KITLV) menggelar acara 鈥淎ESCIART: International Conference on Aesthetics and The Science of Art鈥 yang berisikan seminar, diskusi, dan lokakarya.
Dalam rangkaian hari kedua acara, Professor Patrick D. Flores memberikan pemaparan yang bertajuk 鈥Categories of Conversion through Colonial Form: A Review of Concepts鈥 ('Kategori dari Konversi melalui Bentuk Kolonial: Sebuah Tinjauan Konsep). Seminar ini dilaksanakan pada Rabu (10/11/2022) di Ruang Seminar, Gedung CAD FSRD 麻豆直播.
Prof. Patrick Flores merupakan seorang profesor, kurator, dan kritikus. Beliau menjabat sebagai profesor Bidang Studi Seni pada University of the Philippines pada 1997 hingga 2003. Pada tahun 2011, beliau menjadi anggota Dewan Penasihat pameran The Global Contemporary: Art Worlds After 1989 yang diselenggarakan oleh Pusat Seni dan Media di Karlsruhe dan anggota Dewan Seni Asia Museum Guggenheim.
Selain itu, Prof. Flores juga mengadakan konferensi 鈥Histories of Art History in Southeast Asia鈥 (Sejarah seni dari Sejarah di Asia Tenggara) di Manila dibawah Clark Institute dan The Department of Art Studies of the University of the Philippines. Beliau juga mengkurasi pameran seni kontemporer dari Asia Tenggara dan Eropa Tenggara bertajuk 鈥South by Southeast and the Philippine Pavilion鈥 di Venice Biennale pada 2015. Terakhir, Prof. Patrick Flores ditunjuk juga sebagai Artistic Director Singapore Biennale 2019.
Dalam presentasinya, Prof. Patrick Flores menyatakan bahwa momen penting dalam produksi dari bentuk kolonial adalah konversi. Hal ini karena konversi telah menarik serangkaian penjelasan melalui kiasan kemiripan luar biasa dan pembauran inovatif. Keynote (Pembicaraan Utama) ini meninjau kembali bagaimana transformasi material dapat terjadi melalui kondisi kolonial. Selain itu, juga tentang bagaimana bentuk kolonial dapat dianggap kontradiktif dan transformatif secara internal.
Melalui empat contoh, ia mencoba untuk dengan cermat menjelaskan dinamika konversi ini dalam leksikon kreatif yang berasal dari artefak batu kuburan; lukisan sejarah pemberontakan; gambar kristus dan devosinya; serta transportasi untuk darat dan laut. Refleksi ini berimplikasi pada contoh-contoh serumpun dari konteks sejarah dan sosial yang berbeda, mengusulkan metode penulisan sejarah seni rupa yang berkonstelasi saat menyusun sejarahnya.
Reporter: Inas Annisa Aulia (Seni Rupa, 2020)



