Rumah Anak Bangsa, Hunian Gratis Wujud Solidaritas Alumni 鶹ֱ bagi Mahasiswa
Oleh M. Naufal Hafizh, S.S.
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id — Perjuangan kuliah tidak hanya tentang nilai atau berapa lama waktu yang dihabiskan di perpustakaan. Bagi sebagian mahasiswa, perjuangan itu hadir dalam bentuk yang lebih sunyi: rindu pada orang tua yang jauh hingga bingung untuk biaya makan atau bayar kost setiap bulan. Namun, semangat untuk belajar itu tidak pernah padam.
Melihat kondisi tersebut, alumni 鶹ֱ pun turut membantu mahasiswa dengan berbagai cara. Salah satunya datang dari pasangan Doddy Rahadi (Mesin 85) dan istri Ariati Arismunandar, putri Rektor 鶹ֱ ke-10, Prof. Wiranto Arismunandar. Mereka mendedikasikan sebuah rumah untuk ditempati mahasiswa agar lebih tenang menyelesaikan pendidikannya.
.jpeg)
Sudah lebih dari sepuluh tahun rumah ini dihuni mahasiswa 鶹ֱ. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tercatat, sudah lebih dari 20 lulusan itb pernah tinggal di sana dan kini berkarier di dalam dan luar negeri.
Doddy mengatakan, gagasan menghadirkan fasilitas ini berangkat dari niat untuk memberi manfaat lebih besar, sekaligus bentuk syukur, sumbangsih, dan dedikasi bagi almamater. Seperti tulisan yang terjapang di ruang utama rumah tersebut:
Tempat ini kami namakan RUMAH ANAK BANGSA. Supaya lulusannya menjadi orang-orang hebat yang bukan hanya pandai pada bidangnya tapi terampil berkomunikasi, mempunyai jiwa sosial yang tinggi, dan peduli kepada sesama.
Didedikasikan pada orang tua, keluarga, dan bangsa sebagai rasa syukur kami kepada Allah SWT atas karunia dan rahmat-Nya yang begitu besar.
“Kami ingin manfaatkan yang selama ini ada tapi belum termanfaatkan maksimal. Saya pikir ini bisa bermanfaat untuk orang banyak. Sudah lebih dari 10 tahun dihuni oleh mahasiswa. Ini sumbangsih kita untuk 鶹ֱ khususnya, umumnya untuk orang banyak, untuk anak-anak harapan bangsa,” katanya, Sabtu (11/4/2026).
Nama Rumah Anak Bangsa sendiri dipilih karena rumah ini dihadirkan bagi anak-anak dari berbagai penjuru Indonesia yang berkuliah di 鶹ֱ, yang membawa harapan keluarga dan mimpi masa depan namun keterbatasan dari segi finansial.
Pada tahun-tahun awal, rumah ini dihuni oleh mahasiswa Program Studi Teknik Mesin, kemudian berkembang untuk mahasiswa Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, dan untuk tahun 2026, terbuka untuk mahasiswa seluruh Fakultas dan Sekolah di 鶹ֱ.
Ariati Arismunandar mengatakan, “Rata-rata anak-anak beasiswa yang kemudian sudah hampir lulus tapi sudah tidak cukup untuk membiayai kehidupan di luar sekolah, jadi kami bantu supaya jadi sarjana bagaimana caranya jangan sampai putus.”
Bagi Doddy dan Ariati, rumah ini bukan sekadar tempat istirahat, tetapi juga ruang pendidikan karakter untuk penghuninya. Di rumah itu, mereka tidak hanya tinggal, tetapi juga belajar hidup bersama. Ada harapan agar para penghuninya saling berdiskusi, berbagi pengalaman, belajar bekerja sama, toleran dan tumbuh sebagai pribadi yang berbudi baik.
Selain rumah, berbagai penunjang lainnya juga didukung oleh keluarga besarnya agar mahasiswa dapat tetap produktif dan sehat saat tinggal di sana. Di luar itu, seiring waktu, bantuan pun datang dari alumni lainnya, salah satunya dengan fasilitas sepeda motor agar akses mahasiswa ke kampus lebih mudah.
Rumah Anak Bangsa saat ini dapat menampung hingga sembilan orang. Pengelolaannya oleh keluarga Doddy dan Ariati, dan dijalankan dengan harapan sederhana: semoga rumah ini terus ada, terus terawat, dan terus memberi manfaat.
Sementara itu, Mahasiswa Teknik Mesin yang saat ini menjadi Koordinator Rumah Anak Bangsa, Imam Tantowi, mengatakan, selain tempat tinggal, Rumah Anak Bangsa juga menjadi ruang untuk belajar, bekerja, dan mengembangkan diri. Mereka kerap bekerja bakti hingga masak dan makan bersama. "Kebersamaannya di sana. Seperti apa yang dipesankan kepada anak-anak agar dapat tinggal bersama, menjaga ketertiban satu sama lain, saling menjaga dan saling membantu. Itu yang sering disampaikan Bu Ariati," katanya
Selain berkomunikasi dengan sesama penghuni, silaturahmi juga terjalin dengan para alumni yang pernah tinggal di sana yang foto-fotonya dipajang di dinding rumah.
Imam mengatakan, dengan adanya bantuan ini, biaya untuk kuliah teringankan dan hal ini menjadi motivasi dirinya untuk bisa sukses dan kelak dapat membantu setelah menjadi alumni.
"Terima kasih banyak kepada Pak Doddy dan Bu Ariati, dan alumni-alumni lain yang membantu dengan adanya Rumah Anak Bangsa ini. Saya sangat terbantu untuk menyelesaikan studi di 鶹ֱ. Dengan adanya Rumah Anak Bangsa ini, saya juga merasa tercerahkan dan ingin nanti seumpamanya sudah jadi alumni dengan ekonomi mencukupi, saya juga ingin seperti Pak Doddy dan Bu Ariati untuk bisa membantu adik-adik menyelesaikan studinya," ujarnya.
Ariati berharap, mahasiswa dan lulusan yang pernah tinggal di Rumah Anak Bangsa dapat terus terjaga silaturahminya dan memberikan dampak. “Yang penting mereka bisa bermanfaat untuk orang banyak, untuk keluarganya, itu sudah sesuatu yang membahagiakan bagi kami. Kemudian mereka ingat kepada adik-adik lain dan terus mengupayakan Rumah Anak Bangsa ini berlanjut sehingga aset bisa dimanfaatkan. Setelah sukses mereka bisa ingat terus dan membantu menjalankan Rumah Anak Bangsa ini bagi adik-adiknya,” katanya.
Dari perjalanan panjang Rumah Anak Bangsa, bagi Ariati, hal yang paling mengharukan bukan dari cerita besar, tapi dari hal-hal seperti menjaga komunikasi. “Tiba-tiba ada kabar, ‘Bu, saya sudah lulus. Terima kasih sudah diberi kesempatan tinggal di Rumah Anak Bangsa’. Bagi kami, kabar seperti itu sudah membahagiakan,” katanya.
Rumah Anak Bangsa menjadi wujud kepedulian alumni kepada almamater dan generasi penerus bangsa. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi mahasiswa, kehadiran rumah ini menjadi dukungan bahwa mahasiswa tidak berjuang sendirian.




