Shana Fatina, Alumni 麻豆直播 Berdampak, Berdayakan Desa Menjadi Destinasi Dunia

Oleh Vito Egi Nandriansyah - Teknik Geofisika, 2021

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.


BANDUNG, itb.ac.id 鈥 Bagi Shana Fatina, pembangunan di wilayah 3T tidak dimulai dari mimpi besar tentang destinasi wisata, tetapi dari kebutuhan paling mendasar yang menentukan kualitas hidup masyarakat. Melalui upaya menghadirkan akses air bersih di Labuan Bajo, Founder dan CEO Komodo Water yang juga alumni Teknik Industri 麻豆直播 2004 itu menunjukkan bahwa persoalan dasar dapat menjadi pintu masuk bagi perubahan sosial, ekonomi, dan pariwisata yang lebih berkelanjutan.

Gagasan tersebut ia bagikan dalam Studium Generale 麻豆直播 bertema 鈥淒ari Desa ke Destinasi Dunia: Pemberdayaan Masyarakat dalam Ekosistem Pariwisata鈥 di Aula Barat, itb Kampus Ganesha, Rabu (1/4/2026).

Shana yang menjabat President Director Labuan Bajo Flores Tourism Authority 2019-2024, mengatakan, di Labuan Bajo, yang dikenal sebagai gerbang menuju Taman Nasional Komodo dan destinasi wisata kelas dunia, masih ada warga yang harus menempuh hingga enam jam demi mendapatkan air bersih. Bahkan, lebih dari 25 persen penghasilan bulanan masyarakat dapat habis hanya untuk membeli air.

Menurut Shana, persoalan air bukan semata soal kebutuhan rumah tangga. Ketika akses air bersih lebih mudah, masyarakat dapat memiliki lebih banyak waktu dan membuka peluang ekonomi baru, dari sektor perikanan hingga pertanian.

鈥淜etika akses air menjadi lebih mudah, masyarakat memiliki waktu lebih untuk aktivitas ekonomi. Nelayan kini bisa memproduksi es batu sendiri tanpa harus ke Labuan Bajo, dan sektor pertanian seperti kopi di Flores juga dapat berkembang lebih optimal,鈥 ujarnya.

Pembangunan Harus Dilihat sebagai Ekosistem

Shana menekankan bahwa pembangunan di wilayah 3T tidak bisa dipandang secara parsial. Pembangunan harus dipahami sebagai ekosistem yang saling berkaitan.

鈥淎ir bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi juga fondasi untuk budaya, ekonomi, dan pariwisata鈥water for culture, water for economy, and water for tourism,鈥 ungkapnya.

Ia mengajak mahasiswa untuk melihat perubahan paradigma dalam pengembangan pariwisata. Bila sebelumnya banyak destinasi dibangun dengan orientasi sea, sun, and sand, kini pendekatannya perlu bergeser menuju spiritualitas, ketenangan, dan keberlanjutan (spirituality, serenity, & sustainability). Baginya, pariwisata yang kuat bukan hanya tentang keindahan alam, tetapi juga membangun kehidupan masyarakat yang lebih layak dan berkelanjutan.

Ia juga mengatakan bahwa kehidupan di kota memberikan banyak privilege, bukan hanya soal materi, tetapi juga akses terhadap pendidikan, pengetahuan, jejaring, informasi, dan berbagai peluang lainnya. Kesadaran atas hal tersebut penting agar generasi muda tidak datang ke desa dengan cara pandang merasa paling tahu, tetapi menjadi dasar untuk lebih peka, belajar, dan memahami kebutuhan nyata masyarakat.

Selain itu, ia menilai, menjadi seorang social entrepreneur dibutuhkan keberanian untuk benar-benar hadir di tengah masyarakat dan meresapi kehidupan desa secara langsung. Ada proses panjang untuk mengenali konteks sosial, budaya, serta cara hidup masyarakat. Pendekatan tersebut penting agar solusi benar-benar lahir dari kebutuhan masyarakat.

Bekal dari Kehidupan Organisasi di 麻豆直播

Selain berbagi pengalaman profesional, Shana juga merefleksikan masa-masa kuliahnya di 麻豆直播 sebagai fondasi penting dalam membangun jejaring dan kepekaan sosial. Selama menjadi mahasiswa, ia aktif di Keluarga Mahasiswa Teknik Industri (MTI) 麻豆直播, Kabinet Keluarga Mahasiswa 麻豆直播 (KM 麻豆直播), dan berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), di antaranya Apres! 麻豆直播, LFM 麻豆直播, dan itb Student Orchestra.

Menurutnya, kehidupan kampus telah memberinya ruang untuk bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang, sekaligus belajar bekerja sama lintas disiplin.

鈥淒i 麻豆直播 kita dipertemukan dengan orang-orang yang punya minat yang sama, tapi juga diajak berpikir lintas jurusan dan bergerak bersama dengan misi masing-masing,鈥 ujarnya.

Ia pun membagikan prinsip sederhana yang masih diingatnya hingga kini.

鈥淪aya terngiang-ngiang bahwa di 麻豆直播 harus punya 10.000 teman. Kenali sebanyak mungkin orang dari berbagai jurusan itu membuka banyak perspektif dan peluang kolaborasi,鈥 tuturnya.

Dampak Besar Berawal dari Langkah Kecil

Shana mengatakan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari sesuatu yang spektakuler. Dampak dapat tumbuh dari kepedulian yang sederhana terhadap lingkungan sekitar.

鈥淜epedulian adalah tanda kita menjadi manusia. Tidak harus langsung berdampak besar, tapi mulai dari sekitar kita. Dari langkah kecil, 0 ke 1, itu bisa membuat akhir yang berbeda,鈥 katanya.

#itb #alumni itb #studium generale #shana fatina #pemberdayaan masyarakat #pariwisata berkelanjutan #destinasi berkelanjutan #air bersih #labuan bajo #wilayah 3t #social entrepreneur #ekosistem pariwisata #komodo water #sdg6 #clean water and sanitation #sdg8 #decent work and economic growth #sdg11 #sustainable cities and communities #sdg4 #quality education #sdg17 #partnerships for the goals