Seminar FGB itb: Membaca Sejarah sebagai Gerakan Kebangsaan di Era Pasca-Modernisme

Oleh Ahza Asadel Hananda Putra - Mahasiswa Teknik Pangan, 2021

Editor Anggun Nindita

BANDUNG, itb.ac.id — Forum Guru Besar (FGB) Institut Teknologi Bandung kembali menyelenggarakan seminar rutin dengan mengangkat tema “Sejarah sebagai Sebuah Gerakan Kebangsaan di Era Pasca-Modernisme”, di Gedung Balai Pertemuan Ilmiah (BPI) 鶹ֱ serta disiarkan secara daring pada Jumat (27/2/2026). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi kritis mengenai dinamika sejarah, kebangsaan, dan tantangan pascakolonial di Indonesia.

Diskusi ini dipandu oleh Guru Besar dari Kelompok Keahlian (KK) Analisis dan Geometri Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Prof. Iwan Pranoto, M.Sc., Ph.D. Dua narasumber utama dihadirkan dalam diskusi ini, yakni sejarawan sekaligus anggota DPR RI, Bonnie Triyana, S.S., M.Hum., dan Guru Besar Sejarah Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Bambang Purwanto.

Membaca Kolonialitas dalam Kehidupan Berbangsa
Dalam paparannya, Bonnie Triyana menjelaskan perbedaan antara kolonialisme sebagai bentuk penjajahan fisik dan administratif, dengan kolonialitas yang bekerja melalui cara berpikir, struktur sosial, serta relasi kuasa. Ia menekankan bahwa meskipun Indonesia telah merdeka secara politik, jejak kolonialitas masih dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa.

“Sejarah bukan hanya catatan masa lalu, tetapi realitas yang hidup. Tantangan kita hari ini adalah memastikan bahwa perubahan aktor juga diikuti perubahan cara berpikir dan bertindak,” ujarnya.

Bonnie juga mengajak dunia pendidikan, termasuk 鶹ֱ, untuk terus mengembangkan cara pandang yang kritis terhadap dikotomi “tradisional” dan “modern”, serta memberi ruang yang adil bagi rasionalitas dan pengetahuan lokal sebagai bagian dari kemajuan bangsa.

Nasionalisme Inklusif dan Refleksi Pascakolonial
Sejalan dengan hal tersebut, Prof. Bambang Purwanto mengulas dinamika nasionalisme Indonesia yang menurutnya perlu terus diarahkan agar semakin inklusif dan reflektif. Ia menyoroti pentingnya melakukan evaluasi terhadap struktur dan praktik kebangsaan agar tidak sekadar mereproduksi warisan masa lalu.

Mengutip pemikiran Mohammad Hatta, Prof. Bambang membedakan makna “merdeka” dan “berdaulat”. Menurutnya, kedaulatan sejati tidak hanya tercermin dalam kemerdekaan politik, tetapi juga dalam kemandirian berpikir, bersikap, dan mengelola potensi bangsa secara berkelanjutan.

Perguruan Tinggi sebagai Ruang Kebudayaan
Diskusi juga menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus ruang kebudayaan. Universitas diharapkan tidak hanya berorientasi pada pencapaian teknis dan profesional, tetapi juga pada pembentukan nilai, etika, dan kepekaan sosial.

Ilmu pengetahuan dan teknologi, menurut Prof. Bambang, akan semakin bermakna apabila dikembangkan untuk kemaslahatan manusia serta mampu memperkuat daya saing bangsa dengan tetap berakar pada konteks dan kebutuhan nasional.

Sejarah sebagai Sarana Pendewasaan Bangsa
Seminar ini ditutup dengan ajakan untuk membangun historiografi yang bersifat reflektif dan otokritik. Sejarah dipandang bukan semata sebagai narasi heroik, tetapi sebagai sarana pembelajaran kolektif untuk memahami dinamika masa lalu, termasuk berbagai peristiwa penting, guna memperkuat kedewasaan dan integritas bangsa di masa depan.

Melalui forum ini, FGB 鶹ֱ menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan diskursus akademik yang relevan, kritis, dan konstruktif dalam menjawab tantangan kebangsaan di era pasca-modernisme.

#seminar #forum guru besar #fgb itb