Pakar Geologi itb: Longsor Bandung Barat Dipicu Interaksi Faktor Alam dan Aktivitas Manusia
Oleh Merryta Kusumawati - Teknik Geodesi dan Geomatika, 2025
Editor Muhammad Efriza Pandia
Hujan Ekstrem sebagai Pemicu, Bukan Satu-satunya Penyebab
Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (麻豆直播), Dr.Eng. Imam Achmad Sadisun, S.T., M.T., menjelaskan bahwa hujan berintensitas tinggi berperan sebagai pemicu longsor, namun bukan satu-satunya faktor penyebab. Longsor, menurutnya, merupakan hasil interaksi berbagai faktor alamiah dan aktivitas manusia di kawasan lereng.
鈥淗ujan ekstrem memang sering menjadi pemicu, tetapi faktor lain seperti kemiringan lereng, jenis tanah dan batuan, tingkat pelapukan, tutupan lahan, serta aktivitas manusia juga sangat menentukan,鈥 ujarnya.
Ia menambahkan bahwa hujan dengan intensitas sedang namun berdurasi panjang dapat sama berbahayanya dengan hujan sangat lebat dalam waktu singkat karena sama-sama dapat menyebabkan kejenuhan tanah. Ia menekankan bahwa longsor merupakan bagian dari proses geologi dan lingkungan yang berlangsung secara bertahap dalam jangka panjang.
Kondisi Geologi dan Geomorfologi Bandung Barat
Menurut Dr. Imam, wilayah Kabupaten Bandung Barat berada pada lingkungan geologi yang didominasi oleh produk-produk vulkanik tua dengan lapisan pelapukan yang relatif tebal. Batas antara tanah hasil pelapukan dan batuan dasar yang lebih kedap air kerap menjadi bidang gelincir potensial.
鈥淜ondisi ini akan semakin lemah ketika air hujan meresap dan mengisi pori-pori tanah hingga jenuh. Pada saat itu, kekuatan geser material lereng menurun drastis sehingga lereng tidak lagi mampu menahan beratnya sendiri,鈥 jelasnya.
Secara geomorfologi, kawasan perbukitan dan pegunungan yang mendominasi wilayah Bandung Barat juga membuat daerah ini secara alami memiliki tingkat kerawanan longsor yang tinggi, terutama pada lereng-lereng terjal yang terhubung langsung dengan sistem aliran sungai.
Dampak Luas dan Material Kiriman dari Hulu
Berdasarkan informasi dari pemerintah daerah, longsor di Desa Pasir Langu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, berdampak pada area yang cukup luas dan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Hingga beberapa hari setelah kejadian, proses pencarian dan pertolongan masih terus dilakukan terhadap warga yang tertimbun material longsor, sementara ratusan warga lainnya terpaksa mengungsi demi keselamatan.
Dr. Imam menjelaskan bahwa dampak besar tersebut tidak selalu disebabkan oleh longsor lokal di sekitar permukiman. Dalam beberapa kasus, kerusakan justru dipicu oleh material longsoran dari bagian hulu yang terbawa melalui alur sungai.
鈥淩umah-rumah warga tidak selalu berada di zona sumber longsoran, tetapi terdampak material yang dikirim dari hulu melalui sistem aliran sungai,鈥 ujarnya.
Potensi Bahaya Susulan di Sepanjang Alur Sungai
Ia juga mengingatkan adanya potensi bahaya susulan pascalongsor, terutama jika masih terdapat sumbatan material di bagian hulu sungai. Sumbatan tersebut dapat membentuk bendungan alam sementara yang menahan aliran air dan sedimen.
鈥淛ika hujan kembali terjadi dengan intensitas tinggi, bendungan alam ini berpotensi jebol dan memicu aliran lumpur atau aliran debris ke arah hilir,鈥 kata Dr. Imam.
Menurutnya, aliran bermuatan sedimen memiliki daya rusak yang jauh lebih tinggi dibandingkan aliran air biasa, sehingga kawasan di sepanjang sempadan sungai perlu mendapat kewaspadaan khusus.
Ancaman di Wilayah dengan Karakteristik Serupa
Dr. Imam menegaskan bahwa ancaman longsor tidak hanya terbatas di Bandung Barat, tetapi juga berpotensi terjadi di wilayah lain dengan karakteristik geologi dan morfologi serupa, seperti Bogor dan beberapa daerah lain di Jawa Barat.
鈥淪etiap wilayah memiliki karakter longsor yang berbeda. Ada yang lebih dipengaruhi faktor geologi, ada pula yang dominan karena kemiringan lereng atau perubahan tutupan lahan. Oleh karena itu, strategi mitigasi harus disesuaikan dengan kondisi setempat,鈥 katanya.
Peta Kerentanan dan Mitigasi Berbasis Ilmu Pengetahuan
Dr. Imam menekankan bahwa Indonesia telah memiliki peta zonasi kerentanan gerakan tanah yang dapat diakses oleh masyarakat dan pemangku kebijakan. Peta tersebut memuat informasi tingkat kerawanan longsor suatu wilayah dan seharusnya menjadi rujukan utama dalam perencanaan tata ruang serta aktivitas pembangunan.
鈥淒engan memahami tingkat kerentanan wilayah, masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan, sementara pemerintah dapat menyusun kebijakan pembangunan yang lebih aman,鈥 tuturnya.
Dalam jangka panjang, ia menegaskan pentingnya mitigasi bencana berbasis ilmu pengetahuan melalui upaya struktural dan nonstruktural, seperti stabilisasi lereng di bagian hulu, pemantauan jalur aliran material, serta peningkatan literasi kebencanaan masyarakat. Melalui pemanfaatan informasi ilmiah serta penguatan tata kelola lingkungan dan tata ruang, 麻豆直播 mendorong mitigasi bencana yang lebih terencana dan berkelanjutan guna mengurangi risiko serta dampak bencana di masa mendatang.



.jpg)



