Menembus Batas dengan Kursi Roda, Perjalanan Inspiratif Syamsun Ramli Menempuh Program Doktor di 麻豆直播
Oleh Mely Anggrini - Metereologi, 2022
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id - Pagi di kampus Institut Teknologi Bandung berjalan seperti biasa. Mahasiswa berlalu-lalang menuju kelas, sebagian tergesa, sebagian santai. Di antara rutinitas akademik itu, ada satu sosok yang perjalanannya jauh lebih panjang dari sekadar jarak antar gedung鈥擲yamsun Ramli, mahasiswa Program Studi Doktor Arsitektur 麻豆直播, yang telah melalui jalan hidup penuh liku sebelum akhirnya tiba di titik ini.
Usianya kini 48 tahun. Jalannya tidak lagi seperti kebanyakan orang, tetapi semangatnya melangkah melampaui banyak batas yang dulu pernah dianggap mustahil.
1. Jatuh yang Mengubah Segalanya

Tahun 1998 menjadi garis pemisah dalam hidup Ramli. Saat itu ia masih mahasiswa semester dua Teknik Sipil Universitas Brawijaya (UB) dan aktif dalam kegiatan mahasiswa pencinta alam. Dalam sebuah latihan panjat tebing untuk persiapan ekspedisi, ia terjatuh dari ketinggian sekitar 17 meter.
Benturan itu merusak empat ruas tulang belakangnya di bagian torakal (T5鈥揟8), menyebabkan paraplegia atau kelumpuhan pada tubuh bagian bawah.
鈥淎walnya saya benar-benar tidak mau menggunakan kursi roda,鈥 kenangnya. 鈥淜arena berkursi roda waktu itu terasa seperti akhir dari segalanya.鈥
Namun waktu mengubah cara pandangnya. Rasa putus asa perlahan berganti kesadaran bahwa ia masih diberi hidup. 鈥淪etelah dipikirkan lama, ini adalah anugerah Tuhan. Saya diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki diri,鈥 ujarnya.
2. Tahun-tahun Ketergantungan dan Dukungan Keluarga

Masa pemulihan bukan hanya soal luka fisik. Selama hampir sepuluh tahun, Ramli tidak dapat duduk, berpindah tempat, atau melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan. Ia menggambarkan dirinya kala itu seperti 鈥渂oneka鈥 yang sepenuhnya bergantung pada orang lain.
Di masa-masa tiga tahun pertama, peran orang tua menjadi sangat besar. Sososk ibu, khususnya, setiap hari melatihnya berjalan menggunakan alat bantu, dengan harapan suatu hari anaknya dapat kembali berjalan. Dukungan tanpa lelah dari orang tua membuatnya perlahan berani membayangkan masa depan lagi.
Kelak, dalam perjalanan hidupnya, sosok pendamping hidupnya, Sri Nursiani, juga menjadi bagian penting dari kekuatan itu. Sejak masa kuliah, ia setia mendampingi Ramli鈥攎embantu mobilitasnya, menemani aktivitas akademik, hingga hadir dalam berbagai fase perjuangan yang tidak mudah.
3. Peran Besar dr. Tjuk Risantoso, Sp.OT
Dalam perjalanan panjang tersebut, Ramli menyebut satu nama yang tak pernah ia lupakan: dr. Tjuk Risantoso, Sp.OT, dokter spesialis ortopedi dan konsultan bedah tulang belakang yang menangani berbagai masalah pada tulang, sendi, dan saraf akibat cedera maupun kondisi lainnya.
Di masa ketika banyak pihak meragukan kemungkinan pemulihannya, dr. Tjuk adalah sosok yang bersedia mengambil tindakan operasi pada tulang belakang Ramli. Namun kontribusi beliau tidak berhenti di ruang operasi. Ketika Ramli hampir memutuskan berhenti kuliah karena keterbatasan biaya, dr. Tjuk justru menegurnya keras鈥攖eguran yang diingat Ramli sebagai bentuk kepedulian mendalam. Dokter kemudian membantu membiayai pendidikannya dengan satu syarat: Ramli harus menyelesaikan kuliah tepat waktu.
Janji itu ditepati. Ramli berhasil menyelesaikan studinya hanya terpaut beberapa bulan dari target yang diberikan. 鈥淏eliau bukan hanya menyelamatkan fisik saya, tapi juga masa depan saya,鈥 ujar Ramli mengenang sosok dokter yang sangat berjasa tersebut.
4. Bertahan karena Uluran Tangan Banyak Orang
Perjuangan Ramli menuntut ilmu juga tidak lepas dari solidaritas teman-temannya. Pada masa ketika ia benar-benar tidak memiliki biaya, teman-teman seperjuangan di Teknik Sipil bergantian membantunya鈥攎ulai dari hal sederhana seperti makanan hingga kebutuhan sehari-hari.
Di tengah keterbatasan fisik dan ekonomi, dukungan mereka membuatnya tetap bertahan di bangku kuliah. Pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam tentang arti kebersamaan dan empati dalam dunia pendidikan.
5. Delapan Tahun Mencari Pintu Kesempatan
Setelah lulus, perjuangan Ramli belum berakhir. Ia membutuhkan waktu delapan tahun untuk mendapatkan pekerjaan. Dalam setiap lamaran, ia selalu jujur bahwa dirinya adalah pengguna kursi roda, namun memastikan bahwa hal tersebut tidak akan mengganggu profesionalitasnya.
Kesempatan akhirnya datang ketika ia diterima sebagai Site Engineer dan Desainer di CV. Tiga Pilar, Malang, perusahaan pertama yang memberinya ruang untuk membuktikan kemampuannya di dunia profesional. Di sana, ia belajar memastikan rancangan benar-benar dapat terbangun di lapangan鈥攑engalaman yang memperkaya pemahamannya tentang hubungan antara desain, struktur, dan kebutuhan manusia di dalamnya.
Pengalaman tersebut menjadi pijakan penting dalam perjalanan kariernya. Selain berkarya di dunia profesional, Ramli juga mulai mengabdikan diri di bidang pendidikan sebagai dosen arsitektur di Universitas Ibrahimy, Situbondo, peran yang terus dijalaninya hingga sekarang. Perjalanan ini menunjukkan bahwa kesempatan pertama yang diberikan kepadanya tidak ia sia-siakan, melainkan menjadi awal dari kontribusi yang lebih luas di bidang teknik dan arsitektur.
6. Dari Teknik Sipil ke Arsitektur, hingga Program Doktor di 麻豆直播

Perjalanan akademik Ramli bergerak seiring pengalaman hidupnya. Ia menyelesaikan Sarjana (S1) Teknik Sipil, lalu melanjutkan Magister (S2) Arsitektur Lingkungan Binaan, sebelum akhirnya menempuh Program Doktor (S3) Arsitektur di 麻豆直播.
Penelitiannya kini berfokus pada sistem struktur penahan gempa untuk bangunan bertingkat yang berkelanjutan, bidang yang berada di irisan antara teknik sipil dan arsitektur.
Ia juga merupakan penerima Beasiswa Penyandang Disabilitas dari LPDP, dukungan yang menurutnya sangat berarti dalam memungkinkan kelanjutan studinya.
鈥淜alau tanpa Beasiswa dari LPDP mungkin akan sangat berat,鈥 tuturnya.
7. Pendidikan sebagai Ikhtiar Utama

Bagi Ramli, pendidikan adalah jalan yang membantunya bangkit setelah hidupnya berubah drastis akibat kecelakaan. Melalui proses belajar, ia menemukan kembali arah, harapan, dan keyakinan bahwa dirinya tetap mampu berkembang serta berkontribusi.
Lingkungan belajar di Institut Teknologi Bandung menurutnya sangat mendukung. Berbagai akses di kampus membantunya tetap mandiri dalam menjalani aktivitas akademik sehari-hari, sehingga ia dapat fokus menempuh studinya dengan baik.
鈥淜alau saya tidak sekolah, mungkin saya tidak punya kehidupan seperti sekarang. Pendidikan itu ikhtiar utama,鈥 tuturnya, merangkum perjalanan panjang dari masa pemulihan hingga kini menempuh studi doktoral.
Ia pun belajar bahwa menerima keterbatasan adalah langkah awal untuk terus melangkah. 鈥淪emua orang punya keterbatasan. Saya menerima dulu keterbatasan itu, lalu saya menyesuaikan,鈥 ujarnya, menegaskan bahwa dari penerimaan itulah tumbuh kekuatan untuk terus belajar dan bertahan.
8. Pesan untuk Mahasiswa itb: Merdeka Itu Menyenangkan
Di akhir perbincangan, Ramli menyampaikan pesan yang sederhana namun dalam bagi mahasiswa 麻豆直播. Menurutnya, banyak hal yang sering dianggap biasa justru merupakan anugerah besar ketika kesempatan itu sudah tidak lagi dimiliki. Kesempatan untuk belajar, bergerak bebas, berkumpul dengan teman, hingga menjalankan ibadah adalah bentuk kemerdekaan yang sering kali baru terasa nilainya ketika hilang.
鈥淪elagi masih diberi kesempatan, manfaatkan. Merdeka itu menyenangkan,鈥 ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga adab dalam menuntut ilmu, termasuk menghormati dosen dan guru. Baginya, keberhasilan akademik tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh sikap, ketekunan, dan rasa syukur atas kesempatan untuk terus belajar.
Melalui kisah hidupnya, Ramli ingin menyampaikan pesan yang lebih luas tentang penyandang disabilitas. 鈥淜ami penyandang disabilitas, jika diberi kesempatan, tentu akan bersyukur dan bertanggung jawab terhadap kesempatan itu,鈥 tuturnya.
Perjalanan Ramli menunjukkan bahwa keterbatasan tidak pernah benar-benar menjadi batas akhir. Dengan dukungan keluarga, sahabat, guru, dan kesempatan yang terbuka, ia membuktikan bahwa ketekunan dan keberanian untuk terus belajar dapat membawa seseorang melampaui kondisi yang pernah dianggap sebagai akhir. Dari jatuh di tebing hingga berdiri sebagai mahasiswa doktor di 麻豆直播, ia tidak hanya menyelesaikan pendidikan, tetapi juga menghidupkan kembali makna tentang harapan, tanggung jawab, dan arti kemerdekaan itu sendiri.



.jpg)


