Mahasiswa Desain Interior 麻豆直播 Stefanus Evan Winarta Raih Dua Penghargaan AYDA Awards 2026 melalui Legenda Putri Komodo
Oleh Khalifah Hanif - Desain Interior, 2023
Editor Anggun Nindita
Prosesi Awarding AYDA Awards di The Westin Hotel, Jakarta saat Evan diumumkan sebagai pemenang Alumni鈥檚 Choice, Februari 2026 (Dok. Pribadi)
BANDUNG, itb.ac.id 鈥 Masa transisi dari jenjang sarjana ke magister kerap menjadi periode adaptasi yang padat. Hal ini juga dialami oleh Stefanus Evan Winarta, mahasiswa Magister Desain itb angkatan 2025 yang menempuh studi melalui skema Program Penyatuan Sarjana Magister (PPSM).
Evan merupakan lulusan Desain Interior 麻豆直播 angkatan 2021 yang menyelesaikan studi sarjananya pada Agustus 2025. Di tengah masa transisi akademik sekaligus mulai bekerja, ia justru memilih menantang dirinya dengan mengikuti Asia Young Designer Awards (AYDA) Indonesia, salah satu ajang kompetisi desain mahasiswa yang memiliki jejaring internasional di Asia.
Menembus Zona Aman di Tengah Perubahan Ritme Hidup

Evan dengan karya Tugas Akhirnya setelah sidang di selasar ruang sidang, gedung CADL, itb Kampus Ganesha, Juli 2025. (Dok. Pribadi)
Keputusan tersebut diambil dalam waktu yang relatif singkat. Evan baru mengetahui kesempatan mengikuti kompetisi ini sekitar satu minggu sebelum batas akhir pengumpulan karya. Meski waktu persiapannya terbatas, ia tetap memutuskan untuk mencoba sebagai cara menguji gagasan desainnya di luar ruang akademik.
Karya yang ia ajukan merupakan pengembangan dari tugas akhirnya yang kemudian ia respons kembali terhadap tema kompetisi Converge: Crafting Cultural Legacies. Ia memulai pendekatan desain dari sebuah narasi, menggunakan sudut pandang fiksi seorang putri komodo untuk menyampaikan pesan tentang relasi manusia dan alam yang seharusnya saling menghargai.
Menjaga Gagasan Tetap Relevan dengan Konteks Kompetisi

Momen ketika Evan sedang Presentasi Final AYDA Awards di depan 3 judges di The Westin Hotel, Jakarta, Februari 2026 (Dok. Pribadi).
Dalam proses pengembangan karya, tantangan utama justru terletak pada bagaimana menjaga gagasan tetap kontekstual dengan kompetisi. Ia harus menentukan tipologi desain yang tepat sekaligus merumuskan bahasa komunikasi yang mampu menjembatani ide konseptual dengan format presentasi lomba.
鈥淭antangan terbesarnya adalah memastikan tipologi yang saya pilih sesuai dengan konteks lomba dan bahasa yang saya gunakan dapat menjelaskan ide tanpa membuatnya terlalu abstrak,鈥 ujar Evan.

Poster dan Maket presentasi hasil dari karya Evan yang dipamerkan saat acara Awarding AYDA Awards di The Westin Hotel, Jakarta, Februari 2026 (Dok. Pribadi).
Melalui proses tersebut, ia menyadari bahwa narasi yang dibangun tidak cukup berhenti pada konsep cerita. Narasi tersebut perlu diterjemahkan ke dalam keputusan spasial yang konkret, termasuk bagaimana cerita tersebut hadir dalam rancangan interior resort yang ia usulkan.
Pengalaman ini semakin menegaskan bahwa dalam kompetisi desain, gagasan tidak hanya dinilai dari kedalaman konsep, tetapi juga dari sejauh mana konsep tersebut dapat diwujudkan dan terbaca dalam ruang yang dirancang.
Selain itu, Evan juga merasakan bahwa kompetisi ini membuka ruang pertukaran perspektif. Hal tersebut ia alami terutama saat sesi coaching bagi finalis Top 5 hingga karantina selama tiga hari menjelang penjurian akhir. Diskusi intensif bersama mentor dan peserta lain membantunya melihat kembali kekuatan serta kelemahan gagasannya. Baginya, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran profesional yang tidak selalu diperoleh dalam proses perkuliahan.
Dua Penghargaan dan Pembelajaran Hidup yang Didapat

Evan merayakan dua kemenangan nya dengan berfoto penuh senyum setelah acara Awarding AYDA Awards, di The Westin Hotel, Jakarta, Februari 2026 (Dok. Pribadi).
Pada akhirnya, karya Evan berhasil meraih dua penghargaan sekaligus, yaitu Honorary Mention dan Alumni鈥檚 Choice. Meski demikian, ia menilai bahwa pencapaian tersebut bukan satu-satunya hal penting dari pengalaman mengikuti kompetisi ini.
Ia justru melihat bahwa keberhasilan peserta lain yang berasal dari tingkat lebih muda menunjukkan bahwa prestasi tidak ditentukan oleh senioritas, melainkan oleh kesiapan gagasan dan keberanian untuk mencoba.
鈥淪ering kali kita terlalu fokus pada satu hal sampai tidak sadar bahwa pekerjaan lain yang sedang kita lakukan memiliki potensi besar. Kompetisi ini membuat saya melihat karya saya dari perspektif yang berbeda,鈥 ujarnya.

Evan bersama karya maket dan teman-temannya berfoto setelah sidang Tugas Akhir di Kolam Indonesia Tenggelam, itb Kampus Ganesha, Juli 2025 (Dok. Pribadi).
Bagi Evan, pengalaman ini menegaskan bahwa capaian dalam kompetisi tidak selalu diukur dari hasil akhir. Meski belum meraih penghargaan utama, ia membawa pulang banyak hal berharga, mulai dari jejaring baru, pengalaman belajar, hingga kebersamaan yang memperluas cara pandangnya sebagai seorang desainer.



.jpg)


