Kuliah Tamu SAPPK 麻豆直播 Bekali Mahasiswa dengan Studi Kasus Pembangunan Berkelanjutan dari Melaka

Oleh Chysara Rabani - Mahasiswa Teknik Pertambangan, 2022

Editor Anggun Nindita

Penyampaian materi Datuk Seri Utama Ir. Ts. Hj. Idris bin Hj. Haron di Labtek IX 麻豆直播, Selasa (22/4/2025). (Dok. SAPPK 麻豆直播)

BANDUNG, itb.ac.id - Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung (SAPPK 麻豆直播) menggelar kuliah tamu bertajuk "The Challenges and Sustainable Development: Insight from Melaka, Malaysia" pada Selasa (22/4/2025) Gedung SAPPK 麻豆直播 (Labtek IX), itb Kampus Ganesha.

Acara ini menghadirkan dua pembicara dari Malaysia, yakni Datuk Seri Utama Ir. Ts. Hj. Idris bin Hj. Haron, Ex-Chief Minister of Malacca, Malaysia, dan Dr. Khalid bin Yusuf dari Universiti Teknologi MARA (UiTM). Kuliah tamu ini dimoderatori oleh dosen dari Kelompok Keahlian (KK) Sistem dan Pemodelan Ekonomi, Prof. Dr. Eng. Pradono, S.E., M.Ec.Dev.

Dalam sesi pertamanya, Datuk Seri Idris Haron menyampaikan materi bertema 鈥淪ustainable Development: Authority vs Community 鈥 Malacca Experiences鈥. Beliau menjelaskan bahwa pembangunan berkelanjutan mencakup empat pilar utama, yaitu manusia, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Konsep ini bertujuan memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang.

Datuk Idris memaparkan pencapaian Malaysia dalam pembangunan berkelanjutan, seperti peningkatan standar hidup, pengurangan kemiskinan, penguatan produksi pangan, dan kemajuan dalam model pembangunan yang efisien sumber daya serta tangguh terhadap perubahan iklim. Beliau juga menyoroti kesamaan tantangan dan upaya yang dilakukan oleh Malaysia dan Indonesia, seperti pengembangan pembiayaan hijau, keamanan pangan, perubahan iklim, keterlibatan pemuda, serta pentingnya infrastruktur dan pertumbuhan yang seimbang dengan prinsip keberlanjutan.

鈥淏aik Malaysia maupun Indonesia, keduanya harus menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan prinsip keberlanjutan. Tantangannya adalah bagaimana memastikan bahwa pembangunan tidak hanya cepat, tetapi juga bertanggung jawab,鈥 tuturnya.


Penyampaian materi Dr. Khalid bin Yusuf di Labtek IX 麻豆直播, Selasa (22/4/2025). (Dok. SAPPK 麻豆直播)
Sesi selanjutnya diisi oleh Dr. Khalid bin Yusuf yang membawakan materi 鈥淭he Challenges of the Solid Waste Segregation Program in Malacca鈥. Beliau menyoroti rendahnya tingkat daur ulang di Malaysia, yang meskipun telah meningkat dari 10,5% menjadi 30,7% pada 2020, masih menghadapi berbagai hambatan untuk mencapai target 40% di 2025.

Dr. Khalid memaparkan sejumlah tantangan utama dalam pengelolaan sampah di Melaka, seperti rendahnya kesadaran masyarakat, minimnya keterlibatan pemimpin komunitas, serta terbatasnya fasilitas dan insentif. Beliau pun menekankan pentingnya peran pemimpin lokal dalam menggerakkan partisipasi warga melalui kegiatan gotong royong, diseminasi informasi, serta kolaborasi dengan lembaga swadaya masyarakat.

Sebagai solusi, Dr. Khalid mengusulkan pembentukan organisasi berbasis komunitas (CBOs), program kesadaran antara masyarakat dan universitas, pelatihan pemimpin komunitas dengan pendekatan manajemen PDCA (Plan-Do-Check-Act), serta pemberdayaan warga melalui spektrum partisipasi publik. 鈥淢emberdayakan masyarakat adalah jalan terbaik untuk membangun budaya baru dalam pengelolaan sampah,鈥 jelasnya.

Melalui kuliah tamu ini, para mahasiswa 麻豆直播 mendapat kesempatan berharga untuk memahami secara langsung tantangan dan strategi pembangunan berkelanjutan dari pengalaman Malaysia, khususnya dari praktik di Melaka.

Pengalaman tersebut dapat menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa untuk melihat potensi penerapan konsep serupa di Indonesia, dengan tetap memperhatikan konteks lokal. Dengan mempelajari keberhasilan dan hambatan yang dihadapi negara tetangga, diharapkan mahasiswa dapat mengambil hal-hal positif yang dapat diadopsi serta dikembangkan untuk mendorong terciptanya pembangunan yang lebih berkelanjutan dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik di tanah air.

Reporter: Chysara Rabani (Teknik Pertambangan, 2022)

#kuliah #kuliahtamu #sappk #sdg 11 #sustainablecitiesandcommunities #sdg 12 #responsibleconsumptionandproduction #sdg 17 #partnershipsforthegoals