鶹ֱ Terima 2.019 Mahasiswa Baru Program Pascasarjana dan Profesi pada PMB Semester II Tahun Akademik 2025/2026
Oleh Anggun Nindita
Editor Anggun Nindita
BANDUNG, itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung menyelenggarakan Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Program Pascasarjana dan Program Profesi Semester II Tahun Akademik 2025/2026 pada Jumat (31/1/2026) di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga).
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan itb, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan itb, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., menyampaikan pada Semester II Tahun Akademik 2025/2026, 鶹ֱ menerima 2.019 mahasiswa baru Program Pascasarjana dan Program Profesi. Jumlah tersebut terdiri atas 942 mahasiswa Program Magister, 181 mahasiswa Program Doktor, dan 896 mahasiswa Program Profesi.
Pada Program Magister, mahasiswa baru berasal dari berbagai bidang keilmuan, dengan 445 mahasiswa rumpun STEM dan 497 mahasiswa Non-STEM, yang sebagian besar berasal dari Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM). Program Doktor menerima mahasiswa dari berbagai fakultas dan sekolah, dengan jumlah terbesar berasal dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Adapun Program Profesi mencakup 777 mahasiswa Program Profesi Insinyur (PSPI), 94 mahasiswa Program Profesi Apoteker, dan 25 mahasiswa Program Profesi Arsitek.
Dari sisi demografi, mahasiswa baru Program Pascasarjana dan Profesi menunjukkan rentang usia yang beragam. Rata-rata usia mahasiswa Program Magister adalah 28 tahun 8 bulan, Program Doktor 34 tahun 7 bulan, dan Program Profesi 33 tahun 5 bulan, dengan usia mahasiswa termuda berada pada kisaran 21–23 tahun dan tertua mencapai lebih dari 60 tahun, mencerminkan keterbukaan akses pendidikan lanjut bagi lulusan baru maupun profesional.
Pendidikan Tinggi Sebagai Tanggung Jawab Besar
Rektor 鶹ֱ, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T.
Rektor 鶹ֱ, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., menegaskan bahwa diterima di 鶹ֱ bukanlah tujuan akhir, melainkan titik awal dari tanggung jawab yang jauh lebih besar. "Pendidikan tinggi perlu dimaknai sebagai proses pembentukan intelektual dan kemanusiaan untuk menjawab tantangan nyata yang dihadapi masyarakat, bangsa, dan dunia," ungkapnya.
Rektor 鶹ֱ menyoroti krisis lingkungan dan perubahan iklim yang kian nyata, termasuk meningkatnya frekuensi bencana alam, sebagai pengingat bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak boleh berhenti pada capaian akademik semata. Ia menekankan pentingnya kemampuan berpikir lintas disiplin, bekerja dalam tim, serta melihat persoalan secara utuh, dari laboratorium hingga implementasi di masyarakat, agar lulusan itb mampu menjadi bagian dari solusi.
Selain itu, Prof. Tata menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru dan mengajak mereka menempuh perjalanan intelektual dengan penuh tanggung jawab. Ia berharap para mahasiswa dapat tumbuh menjadi insan pembelajar yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkontribusi nyata dalam menjawab tantangan kemanusiaan dan keberlanjutan masa depan.
Orasi Ilmiah: Mikroalga Indonesia dan Mitigasi Perubahan Iklim
dosen Kelompok Keahlian (KK) Biokimia dan Rekayasa Biomolekul FMIPA 鶹ֱ, Alfredo Kono, S.Si., M.Si., Ph.D.
Pada rangkaian Sidang Terbuka PMB ini juga disampaikan Orasi Ilmiah berjudul “Dari Laut hingga Kawah Gunung Berapi: Mikroalga Indonesia untuk Penangkapan CO₂ dan Mitigasi Perubahan Iklim” oleh Alfredo Kono, S.Si., M.Si., Ph.D., dosen Kelompok Keahlian (KK) Biokimia dan Rekayasa Biomolekul Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) 鶹ֱ.
Dalam orasinya, beliau mengangkat potensi mikroalga Indonesia sebagai solusi berbasis alam untuk mitigasi perubahan iklim. Ia menjelaskan bahwa mikroalga, melalui proses fotosintesis, memiliki kemampuan alami untuk menangkap karbon dioksida (CO₂) dan mengonversinya menjadi biomassa.
"Indonesia, dengan karakter sebagai negara maritim sekaligus kawasan cincin api, memiliki laboratorium alam yang kaya, mulai dari laut tropis hingga kawah gunung berapi, yang menjadi habitat mikroalga dengan mekanisme adaptasi luar biasa," katanya.
Ia memaparkan riset mengenai mikroalga laut, khususnya diatom, yang berkontribusi signifikan terhadap penyerapan karbon global dan memiliki potensi sebagai sumber biomassa serta biomaterial.
"Selain itu, eksplorasi mikroalga dari lingkungan ekstrem seperti kawah gunung berapi menunjukkan peluang pengembangan organisme fotosintetik yang tahan terhadap kondisi asam, panas, dan paparan logam berat, sehingga berpotensi diaplikasikan untuk penangkapan CO₂ dari gas buang industri," tuturnya.
Menurut Alfredo Kono, pengembangan mikroalga Indonesia sebagai platform penangkapan karbon tidak hanya relevan untuk mitigasi perubahan iklim, tetapi juga membuka peluang ekonomi sirkular berbasis bioteknologi.
"Riset mikroalga tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu dasar, tetapi juga membuka jalan bagi inovasi teknologi yang relevan dalam konteks kebencanaan dan perubahan iklim. Penguatan riset berbasis biodiversitas lokal, kolaborasi lintas disiplin, serta hilirisasi hasil penelitian menjadi kunci agar sains dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat," ucapnya.
Ia pun menekankan pentingnya kolaborasi lintas multidisiplin antara sains dasar, rekayasa, industri, dan kebijakan, agar hasil riset dapat bertransformasi menjadi solusi nyata yang berdampak bagi masyarakat.



.jpg)


