FGB 麻豆直播 Gelar Kuliah Umum Bahas Potensi dan Tantangan Pengembangan Teknologi Metalurgi
Oleh Yulia Miftah Hul Janah - Ilmu dan Rekayasa Nuklir, 2024
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id 鈥 Forum Guru Besar 麻豆直播 menggelar kuliah umum bertema "Metalurgi: Potensi dan Tantangan Pengembangan Teknologi". Jumat (13/03/2026) di Galeri Utama I Campus Center Timur, itb Kampus Ganesha, dengan narasumber Prof. Dr.Ing. Ir. Zulfiadi Zulhan, ST., MT., IPU. dan Prof. Dr. Ir. Mohammad Zaki Mubarok, S.T., M.T., guru besar dari Kelompok Keahlian (KK) Teknik Metalurgi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) 麻豆直播, dan Dr. Eng. Asep Ridwan Setiawan, S.T, M.Sc., dosen dari Kelompok Keahlian (KK) Ilmu dan Teknik Material, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) 麻豆直播.
Prof. Zulfiadi Zulhan menyampaikan materi 鈥Green Pyrometallurgy dan Integrasi Hidrogen dalam Transformasi Teknologi Industri Logam menuju Sistem Produksi Rendah Karbon鈥. Ia mengatakan, transformasi menuju produksi rendah karbon dapat membuka peluang adopsi teknologi baru di industri logam.
Adapun Teknologi HPSR (Hydrogen Plasma Smelting Reduction) merupakan alaternatif peleburan yang lebih ramah lingkungan dibanding proses berbasis karbon. Teknologi ini mampu menghasilkan logam langsung dan bijih/oksida dalam waktu singkat, sehingga berpotensi meningkatkan efisiensi proses. Namun, teknologi ini memiliki tantangan berupa produksi logam reaktif (Ti, Zr, LTJ,鈥). Selain itu, HPSR masih dalam tahap penelitian dan baru tersedia dalam skala laboratorium dan pilot sehingga perlu proses yang panjang untuk scale-up menuju skala industri komersial.
Sementara itu, Prof. Mohammad Zaki Mubarok menyampaikan materi 鈥淭ransformasi Industri Nikel Berbasis Keberlanjutan: Diversifikasi Produk Turunan Bernilai Tinggi dan Valorisasi Sisa Proses Pengolahan鈥. Ia mengatakan, pada tahun 2025, produksi Ni di Indonesia mencapai 67% produksi Ni di dunia. Pendapatan tahunan dari produksi Ni mencapai Rp585.000.000.000.000.
Berangkat dari kelebihan proses yang sudah dikembangkan, dibandingkan dengan proses yang sudah ada di industri melalui konversi FeNi menjadi Ni-matte, total perolehan Ni lebih tinggi. Tidak ada kehilangan Ni dari proses konversi FeNi menjadi Ni-matte (yang hilang ke terak). Proses pemanggangan FeNi hanya memerlukan suhu sekitar 300 oC selama kurang lebih 陆 jam. Biaya investasi dan biaya operasional diperkirakan lebih murah dibandingkan konversi FeNi ke Ni-matte.
Maka dari itu, outlook ke depan yaitu mendorong terus riset-riset fungsional dan advanced materials berbasis produk pengolahan dan pemurnia bijih nikel, seperti material baterai, nickel-based super alloy, katalis. Selain itu, pengembangan fasilitas dalam skala pilot untuk melakukan scale-up hasil-hasil riset di lab yang melibatkan multidisciplinary expertise.

Adapun Dr.Eng. Asep Ridwan Setiawan menyampaikan materi 鈥淣ikel dan Paduannya: Dari Material hingga Aplikasi鈥. Ia mengatakan, Nikel digunakan dalam pembuatan stainless steels, superalloys, dan nitinol(NiTi). Stainless steels banyak digunakan pada bidang peralatan dan konsumen, migas dan energi, medis dan industri. Sedangkan superalloys banyak diaplikasikan pada bilah turbin, mesin jet pesawat, heat exhanger, dan reaktor kimia.
Pengembangan stainless steels di Indonesia memiliki tantangan berupa kontrol komposisi multi-elemen, low-carbon production, investasi capex sangat besar, dan keterbatasan SDM pada bidang metalurgi atau material. Sementara itu, tantangan dalam pengembangan nitinol yaitu kontrol komposisi yang ketat, pemrosesan yang sulit, biaya produksi tinggi, SDM dan infrastruktur yang terbatas.



.jpg)

.jpg)

