Dosen dan Alumni SITH Âé¶¹Ö±²¥ Berpartisipasi di Misi Riset Laut Dalam OceanX - BRIN Leg 2 di Sulawesi Utara
Oleh Aura Salsabila Alviona - Bioteknologi, 2025
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
SULAWESI UTARA, itb.ac.id, – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan organisasi eksplorasi laut global, OceanX, kembali melanjutkan misi bertajuk "Indonesia Mission 2025 - Leg 2" di perairan Sulawesi Utara. Berlangsung pada 5-24 Januari 2026, ekspedisi ini menyasar salah satu kawasan dengan biodiversitas laut tertinggi di dunia yang masih menyimpan banyak misteri.
Di balik kecanggihan kapal riset RV Ocean Explorer yang dilengkapi laboratorium genetik hingga helikopter survei, terdapat fakta menarik yang membanggakan bagi Institut Teknologi Bandung. Dari total 18 peneliti utama (researcher) yang terpilih untuk berlayar dan bekerja langsung di atas kapal Ocean Explorer, empat di antaranya merupakan bagian dari keluarga besar SITH Âé¶¹Ö±²¥.
Keempat sosok tersebut adalah Husna Nugrahapraja, Ph.D. (Dosen SITH Âé¶¹Ö±²¥), Pipit Pitriana, M.Si. (Alumni Biologi, 1998), Nur Fitriah Avianti (Alumni Mikrobiologi, 2009), dan Zen L. Siallagan (Alumni S3 Biologi, 2021).
Pengalaman Langsung Menembus Kegelapan
Salah satu aspek paling menarik dari misi OceanXplorer adalah penggunaan submersible (kapal selam mini) yang mampu menyelam hingga kedalaman 1.000 meter. Husna Nugrahapraja, Ph.D., dosen Kelompok Keahlian Genetika dan Biologi Molekuler SITH Âé¶¹Ö±²¥, mendapatkan kesempatan langka untuk menyelam langsung ke habitat yang ia teliti.

Kepada media internasional, Dr. Husna mengaku sempat merasa sedikit gugup dan cemas saat pertama kali turun dengan submersible. Ia menggambarkan suasana awal di kedalaman sebagai lingkungan yang sangat sepi.
Namun, kegugupan itu segera berganti menjadi kekaguman. Saat cahaya matahari menghilang total di kedalaman 200 meter, Dr. Husna menyaksikan fenomena marine snow, serpihan material organik yang jatuh perlahan layaknya salju di dasar laut. Pemandangan ini semakin memukau dengan kehadiran bioluminescence, di mana organisme laut dalam memancarkan cahaya biru-putih layaknya galaksi bintang di kegelapan total.

"Akhirnya kami tiba di dasar laut, di mana kami bisa melihat banyak organisme unik," tutur Dr. Husna. Menurutnya, pengalaman melihat langsung ini memberikan perspektif yang benar-benar berbeda dibandingkan hanya melihat rekaman video dari ROV (Remotely Operated Vehicle).
Garda Terdepan Mengungkap Biodiversitas dan Bioprospeksi Laut Dalam
Peran Dr. Husna tidak berhenti pada observasi visual. Sekembalinya ke permukaan, ia memegang kendali vital di Wet Lab (Laboratorium Basah). Di sini, Dr. Husna mengintegrasikan keahlian bioinformatika dan genomik untuk menganalisis sampel yang telah dikumpulkan. Menggunakan fasilitas DNA sequencing mutakhir di atas kapal, data genetik dari sampel air dan sedimen dapat langsung dibedah tanpa harus menunggu kembali ke darat.
.jpg)
"Ini adalah lab tersibuk, di mana kami mengoleksi semua sampel dari ROV dan submersible. Fokus utama kami adalah mengungkap potensi biodiversitas dan bioprospeksi dari material biologis tersebut," ujarnya.
Peran Alumni: Dari Komando Misi hingga Riset Mikroba
Di sisi lain, kontribusi alumni SITH Âé¶¹Ö±²¥ dalam misi ini menunjukkan peran kepemimpinan yang krusial. Pipit Pitriana, M.Si. (Alumni Biologi, 1998) dipercaya mengemban tanggung jawab sebagai Chief Scientist. Pipit bertanggung jawab menyatukan berbagai disiplin keilmuan tim periset agar target misi tercapai secara inklusif.
.jpg)
Di bawah koordinasinya, tim berhasil mengidentifikasi spesimen menarik, termasuk lobster berwarna putih tulang (bone-white lobster) dan teritip seukuran mutiara yang menurut Pipit berpotensi menjadi temuan spesies baru bagi sains.
"Bumi kita, laut kita, sebagian besar adalah laut dalam. Namun, sangat sedikit yang kita ketahui tentang biodiversitasnya," ujar Pipit.
Melengkapi tim peneliti, Nur Fitriah Avianti (Alumni Mikrobiologi, 2009) dan Zen L. Siallagan (Alumni S3 Biologi, 2021) bekerja secara intensif di stasiun CTD (Conductivity, Temperature, Depth). Riset mereka difokuskan pada pemetaan kehidupan mikroba dan siklus biogeokimia hingga kedalaman 4.000 meter, sebuah lapisan kritis untuk memahami dinamika ekosistem laut secara global.
Partisipasi aktif dosen dan alumni SITH Âé¶¹Ö±²¥ dalam misi global ini menegaskan kualitas peneliti Indonesia dalam upaya mendokumentasikan kekayaan hayati Indonesia yang tersembunyi di dasar samudra.



.jpg)


