Cosmos Within: di Antara Warna, Benang, dan Kehidupan Tak Kasat Mata Karya Malika Fatima Lawe

Oleh Dina Avanza Mardiana - Mikrobiologi, 2022

Editor Anggun Nindita

Mahasiswi Mikrobiologi 麻豆直播 ini menggabungkan sains dan seni dalam karya 鈥淐osmos Within鈥, refleksi personal yang lahir dari kecintaannya pada dua dunia berbeda (Dok. Malika Fatima Lawe)

BANDUNG, itb.ac.id - Dua bulan setelah perayaan International Microorganism Day (IMD) 2025 pada Sabtu (13/09/2025) di Aula Timur 麻豆直播 berakhir, gema acara itu masih membekas bagi sebagian peserta, terutama bagi Malika Fatima Lawe. Mahasiswi semester tujuh Program Studi Mikrobiologi ini masih ingat jelas bagaimana malam itu ia berdiri di depan lukisan berukuran 2,5 meter yang ia beri judul 鈥淐osmos Within鈥. Bukan sekadar karya seni, lukisan itu menjadi simbol pertemuannya dengan dua dunia yang selama ini ia cintai: sains dan seni.

鈥淏agiku, mikroba dan semesta punya kesamaan. Dua-duanya tidak bisa dilihat langsung, tapi selalu ada di sekitar kita. Yang tak terlihat bukan berarti tidak ada,鈥 ujarnya.

Karya itu memang dibuat untuk IMD, tetapi maknanya melampaui sekadar pameran. Bagi Malika, 鈥淐osmos Within鈥 adalah cara untuk memahami dirinya sendiri dan menemukan kembali keseimbangan antara logika laboratorium dan intuisi seorang seniman.

Dari Depok, Berawal dari Coretan Kecil

Malika, yang akrab disapa Mika, lahir di Jakarta dan menghabiskan masa kecilnya di Depok. Ia tumbuh di lingkungan yang mendorong kreativitas. Sejak kecil, tangannya selalu sibuk mencoret dinding, membuat rajutan, atau mengikuti pameran sekolah.

鈥淭anganku tidak bisa diam,鈥 katanya sambil tertawa. Selain itu, dukungan dari keluarga dan sekolah membuatnya terus menyalurkan energi kreatifnya lewat berbagai bentuk seni.

Namun, minatnya pada sains muncul secara tak terduga. Saat pandemi COVID-19 melanda, ia menyaksikan bagaimana organisme mikroskopis mengubah tatanan dunia. Dari situ muncul rasa ingin tahu yang besar terhadap mikrobiologi.

鈥淎ku sadar, sesuatu yang kecil banget bisa mengubah seluruh dunia. Dari situ aku tahu aku ingin mengenal makhluk-makhluk tak kasat mata itu lebih dalam,鈥 ujarnya.

Malika Fatima Lawe saat melakukan praktikum di laboratorium Mikrobiologi, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati 麻豆直播. (Dok. Fenryco Pratama)

Ia akhirnya memilih Mikrobiologi 麻豆直播 sebagai satu-satunya pilihan kuliah saat mendaftar melalui SNMPTN. Keputusannya didorong oleh kekaguman terhadap laboratorium SITH 麻豆直播 yang tetap aktif meneliti di masa pandemi. 鈥淎ku tahu, di sini aku bisa belajar tentang kehidupan dari sudut yang paling kecil tapi paling berarti,鈥 tuturnya.

鈥淐osmos Within鈥: Semesta dalam Kanvas

Lukisan Cosmos Within Karya Malika (Dok. Malika Fatima Lawe)

Dalam proses berkarya, Malika tidak terpaku pada satu gaya visual tertentu. Ia menyebut dirinya sebagai penikmat seni dalam berbagai bentuk. Dari sapuan lembut Claude Monet, keberanian garis Affandi, hingga emosi mendalam dari karya-karya Vincent van Gogh, semuanya memberi pengaruh tersendiri.

Lukisan Starry Night karya Van Gogh bahkan menjadi salah satu inspirasinya dalam menciptakan Cosmos Within. 鈥淪aat melihat Starry Night, setiap usapan kuasnya terasa hidup, seolah menari. Aku ingin menangkap perasaan itu, agar lukisanku bukan hanya untuk dilihat, tetapi bisa dirasakan,鈥 ujarnya.

Ide 鈥淐osmos Within鈥 muncul dari pergulatannya sehari-hari antara dunia laboratorium dan dunia seni. Ia sering kali merasa kedua hal itu bertabrakan, namun pada akhirnya sadar keduanya justru saling mengisi.

鈥淪ains memberiku logika, tapi seni mengajarkanku untuk jujur pada perasaan,鈥 ujarnya.

Lukisan berukuran 2,5 meter itu menggambarkan semesta dan dunia mikroba sebagai dua realitas yang sama-sama luas dan misterius. Ia menggunakan dua medium, cat dan benang, yang melambangkan perpaduan struktur dan kebebasan.

鈥淏ermain dengan benang telah menjadi hobiku sejak lama. Jadi aku masukkan ke lukisan supaya karya ini benar-benar jadi bagian dari diriku,鈥 jelasnya.

Proses pengerjaannya tidak mudah. Ia baru memulai lima hari sebelum batas pengumpulan karya. Di kamar kosnya yang sempit, ia harus memindahkan semua barang agar kanvas besar itu bisa terbentang.

Namun yang paling berkesan bukanlah proses fisiknya, melainkan perjalanan emosionalnya. Mika sempat merasa gagal dan menangis di depan kanvas kosong. 鈥淎walnya aku ingin melukis galaksi realistis, tapi hasilnya sangat jelek. Mika frustasi karena style realistis ini merupakan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.

Lalu aku teringat lagu Cornfield Chase dari Interstellar dan tiba-tiba semua terasa selaras,鈥 kenangnya. Ia akhirnya membiarkan tangannya bergerak bebas, mengikuti irama emosinya. 鈥淒ari situ aku sadar, proses berkarya bukan soal hasil sempurna, tapi soal berdamai dengan diri sendiri.鈥

Dari Laboratorium ke Pameran Karya

Meski karya itu sudah lama dipamerkan, Mika tak berhenti di sana. Kini ia tengah mengembangkan proyek-proyek baru yang tetap berakar pada dua hal yang ia cintai: seni dan mikrobiologi. Sebagai Ketua Divisi Kreatif HIMAMIKRO 鈥淎rchaea鈥 麻豆直播, ia kerap menjadi penggerak di balik berbagai kegiatan seni ilmiah, seperti petri dish art workshop dan ilustrasi sampul buku anak 鈥淧ahlawan Tak Kasat Mata鈥, hasil kolaborasi Mika bersama Nashita Saaliha (Mikrobiologi, 2021).

Sampul Buku Anak 鈥淧ahlawan Tak Kasar Mata鈥, Hasil Karya Mika (Dok. Malika Fatima Lawe)

Menurutnya, sains dan seni tidak pernah benar-benar terpisah. 鈥淜eduanya lahir dari rasa ingin tahu. Bedanya, sains mencari jawaban, seni mencari makna,鈥 ujarnya. Ia percaya, dengan menggabungkan keduanya, pesan ilmiah bisa disampaikan dengan cara yang lebih menyentuh.

Kini, dua bulan setelah IMD, Malika tidak lagi melihat karyanya sebagai akhir dari sebuah acara, melainkan awal dari perjalanan yang lebih panjang.鈥淪ebagus apa pun karyamu, kalau tidak kamu tunjukkan, dunia tidak akan tahu,鈥 ujarnya.

鈥淜alau kamu takut, tetap lakukan saja. Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut, tetapi berani melangkah meskipun rasa takut itu masih ada.鈥

Reporter: Dina Avanza Mardiana (Mikrobiologi, 2022)

#prestasi mahasiswa #karya mahasiswa