Buku “Panduan Tumbuh di Kampus”, Cara Dosen itb Prasanti Widyasih Sarli Dampingi Mahasiswa Hadapi Kuliah dan Berbagai Dinamikanya

Oleh Kayla Annisa Erian - Rekayasa Infrastruktur Lingkungan, 2023

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

Sampul buku “Panduan Tumbuh di Kampus”.

BANDUNG, itb.ac.id – Bagaimana cara bertahan dan bertumbuh di masa awal kuliah? Pertanyaan itu coba dijawab melalui buku Panduan Bertahan Tumbuh di Kampus karya Prasanti Widyasih Sarli dalam Book Talks yang digelar di The Room 19, Bandung.

Buku ini merupakan edisi terbaru dari Panduan Bertahan Tumbuh di 鶹ֱ yang sebelumnya dibagikan kepada sekitar 5.000 mahasiswa baru 鶹ֱ. Karena tingginya permintaan atas buku tersebut, baik dari orang tua mahasiswa maupun dosen dari perguruan tinggi lain, buku tersebut diterbitkan kembali dengan judul yang lebih luas agar relevan bagi mahasiswa dari berbagai kampus.

Pengunjung Book Talks: “Panduan Tumbuh di Kampus” di The Room 19 Bandung, Minggu (1/3/2025). (Dok. Abel Karim Ardiaputra)

“Karena kampus bukan tempat bagi mereka yang paling jago, tetapi bagi mereka yang mau terus belajar dan bertumbuh.” Gagasan itulah yang menjadi benang merah buku ini. Kuliah, menurut Ir. Prasanti Widyasih Sarli, S.T., M.T., Ph.D., penulis, bukan semata soal IPK dan gelar. Kuliah juga tentang kebingungan memilih kelas, lelah mengikuti ritme orang lain, merasa tertinggal, hingga mempertanyakan arah hidup.

Buku ini tidak hadir untuk menggurui atau memberi resep instan. Ia hadir sebagai teman diskusi yang jujur—menemani mahasiswa memahami cara belajar di kampus, menjaga kewarasan, membangun relasi, serta bangkit ketika merasa ingin menyerah.

Disusun dari dialog dengan mahasiswa, riset dari berbagai literatur, dan pengalaman nyata di ruang kuliah, buku ini mengajak pembacanya bertumbuh secara intelektual, emosional, dan sosial dengan pendekatan yang manusiawi dan aplikatif.

Sebagai buku keempat yang ditulis Bu Asih, sapaannya, karya ini ditujukan sebagai panduan masa transisi dari bangku Sekolah Menengah Atas menuju dunia perkuliahan. Buku ini tidak hanya ditulis dari sudut pandang dosen, tetapi juga memuat pengalaman dan perspektif mahasiswa yang sedang menjalani perkuliahan.

Lima Bab tentang Berteman, Ujian, dan Menikmati Proses

Buku ini terdiri dari lima bab yang membahas pengenalan dunia perkuliahan serta strategi untuk bertumbuh selama menjalani studi. Topik yang diangkat meliputi pertemanan, cara menghadapi ujian, hingga bagaimana menikmati kehidupan di tengah kesibukan kuliah.

Buku ini pun dilengkapi ilustrasi dan rumus-rumus sederhana yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa.

Mahasiswa Berbagi Pengalaman Nyata

Dalam acara tersebut, dua mahasiswa angkatan 2025 diundang sebagai pembaca sekaligus responden untuk berbagi pengalaman setelah membaca buku. Kehadiran mereka membantu pengunjung memahami isi buku meski belum membacanya secara langsung.

“Aku mengalami kesulitan pada bagian pertemanan yang berujung pada FOMO, tapi setelah baca buku ini aku jadi sadar persepsi aku salah dan aku tidak sendirian dalam menghadapi tantangan ini,” kata Madlin, salah seorang mahasiswa 鶹ֱ.

Mahasiswa lain, Sarah, juga merasakan tantangan serupa saat menjalani tiga unit kegiatan sekaligus. Setelah membaca buku tersebut, ia mulai mengatur prioritas dan mendapatkan dukungan dari rekan-rekannya. 

Menurut Sarah, kehidupan di 鶹ֱ menciptakan pertemanan yang memiliki solidaritas tinggi karena melalui hal yang relatif sama dan bersama-sama.

Ia pun berpendapat ilustrasi apda buku membantu menjelaskan konsep dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami.  “Ketika melihat ilustrasi telur yang ada di dalam buku, aku langsung memberi tahu teman-temanku yang lain. Rasanya cara penjelasan pentingnya menggunakan helm saat berkendara diilustrasikan dengan telur dalam foam sehingga pembaca dapat memahaminya dengan baik,” ujarnya.

Di Balik Layar Proses Kreatif Buku

Amanda, editor dan penata letak buku membagikan makna terkait sampul serta ilustrasi dalam buku di The Room 19 Bandung, Minggu (1/3/2025). (Dok. Abel Karim Ardiaputra)

Acara ini juga menghadirkan kontributor cerpen, editor, serta penata letak buku untuk membagikan proses kreatif di balik penerbitan. Mereka menjelaskan bagaimana konsep visual dan isi buku dirancang agar lebih relevan dan komunikatif.

Pada edisi sebelumnya, Panduan Bertahan Tumbuh di 鶹ֱ menggunakan sampul berwarna merah muda sebagai warna kontras dari identitas kampus yang identik dengan biru. Sementara itu, pada edisi terbaru, sampul didominasi warna biru sebagai pembeda sekaligus penegasan identitas baru. Ilustrasi sampul dibuat berdasarkan imajinasi Amanda selaku editor dan penata letak.

“Dengan buku ini saya ingin membantu mahasiswa yang tidak hanya berada di 鶹ֱ tapi di berbagai tempat agar dapat bertumbuh dengan baik, karena sebagai dosen saya sudah menyaksikan jatuh bangunnya mahasiswa, sehingga buku ini mampu memberikan ajaran secara halus kepada mahasiswa tersebut,” katanya.

Melalui peluncuran buku ini, penulis berharap mahasiswa tidak hanya mampu bertahan menghadapi tantangan perkuliahan, tetapi juga berkembang secara akademik dan personal selama menempuh pendidikan tinggi.

#dosen itb #prasanti widyasih sarli #karya dosen #itb berdampak #buku panduan mahasiswa #kehidupan kampus #transisi mahasiswa baru #book talks #bandung #panduan tumbuh di kampus #sdg4 #quality education #sdg3 #good health and well being #sdg10 #reduced inequalities