Ben Wirawan, Alumni 麻豆直播 Bagikan Kunci Sukses Membangun Bisnis Torch.id Jadi Perusahaan Besar yang Relevan di Era Digital
Oleh Chysara Rabani - Teknik Pertambangan, 2022
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id 鈥 Ben Wirawan, alumni Desain Produk 麻豆直播 (1994), sepuluh tahun lalu, membangun Torch.id dari sebuah ruko kecil dengan enam orang tim. Dalam delapan tahun, Ben bersama Hanafi Salman, alumni Desain Produk 麻豆直播 (1994), membawa brand tersebut menjadi perusahaan besar yang tumbuh 100 kali lipat. Penghargaan terbaru, brand-nya masuk Forbes Asia 100 to Watch 2025 untuk kategori E-commerce & Retail. Daftar tahunan ini merilis startup paling menjanjikan di Asia-Pasifik, terutama yang berfokus pada inovasi seperti AI dan deep tech.
Kisah tersebut ia bagikan dalam Studium Generale 麻豆直播 bertajuk 鈥淏erani Memulai, Berani Bertumbuh: Membangun Brand yang Relevan di Era Digital鈥 di Aula Barat, itb Kampus Ganesha, Rabu (18/2/2026).
Di hadapan sekitar 1.100 mahasiswa yang mengikuti kuliah dari itb Kampus Ganesha, Jatinangor, dan Cirebon, Ben yang kini menjadi Co-Founder dan CEO Torch.id tidak hanya bercerita tentang bisnis, tetapi tentang cara berpikir 鈥 cara melihat masalah, membaca peluang, dan membangun sesuatu yang relevan dalam jangka panjang. Pertumbuhan 100 kali lipat dalam delapan tahun bukanlah cerita instan, melainkan hasil dari strategi, ketekunan, dan keberanian mengambil risiko.
Dari Studio Desain ke Panggung Industri Nasional dan Global
Ben menempuh pendidikan di Desain Produk FSRD 麻豆直播. Cara berpikir desain yang ia pelajari di kampus membentuk fondasi penting dalam membangun perusahaan. 麻豆直播, menurutnya, tidak sekadar memberi ilmu teknis, tetapi membentuk cara pandang terhadap masalah.
Ia menegaskan bahwa passion dan misi pribadi menjadi kompas dalam perjalanan kariernya.
鈥淪aya merasa semua orang akan menjadi sangat besar saat berada di misinya. Jangan terjebak sedang di jurusan apa. Semua ilmu bisa dipelajari dari orang-orang yang Anda temui dan buku yang Anda baca,鈥 tuturnya.
Ia menilai terdapat benang merah antara pendidikan di 麻豆直播 dan kiprahnya di industri, yakni pendekatan berbasis problem solving, keberanian bereksperimen, dan kemampuan beradaptasi.
Bagi Ben, membangun bisnis bukan sekadar mengejar profit, tetapi berkontribusi pada transformasi struktur ekonomi nasional. Ia mendorong agar tenaga kerja Indonesia secara bertahap bergerak dari usaha mikro ke perusahaan yang lebih besar dan produktif, sebagai bagian dari langkah menuju visi ekonomi Indonesia 2045.

Selain menguatkan pasar domestik, Torch juga menunjukkan kapasitasnya sebagai brand lokal yang mampu berkiprah di panggung global melalui berbagai kolaborasi intellectual property (IP) berskala internasional. Ben mencontohkan kerja sama Torch dengan sejumlah IP ternama dunia seperti Marvel, Mobile Suit Gundam, hingga One Piece. Strategi ini membuktikan bahwa brand lokal Indonesia memiliki daya saing untuk berkolaborasi dengan ekosistem global, sekaligus memperkuat posisi industri kreatif nasional di tengah persaingan internasional.
Strategi Lean Startup dan Produk yang Relevan
Kunci pertumbuhan brand, menurut Ben, terletak pada penerapan metode The Lean Startup dengan siklus 叠耻颈濒诲鈥揗别补蝉耻谤别鈥揕别补谤苍. Setiap produk diuji melalui Minimum Viable Product (MVP), dievaluasi, lalu disempurnakan secara berulang.
鈥淜ita harus membuat produk yang relevan sepanjang waktu (timeless). Strategi utama adalah menciptakan customer journey yang personal. Semakin lama pesan itu dibicarakan oleh banyak orang, semakin baik dampaknya bagi brand,鈥 katanya.
Pendekatan ini tidak hanya membangun brand, tetapi juga membangun hubungan emosional dengan pelanggan.
Menuju Kemandirian Industri Nasional
Ben melihat peluang kolaborasi yang lebih besar antara industri dan kampus. Ia menyoroti pentingnya riset dan pengembangan material agar industri nasional tidak terus bergantung pada impor. Gagasan ini sejalan dengan visi 麻豆直播 sebagai perguruan tinggi generasi keempat yang tidak berhenti pada publikasi dan inovasi, tetapi mendorong hilirisasi dan kemandirian industri. Kolaborasi antara kampus dan pelaku usaha menjadi jembatan penting untuk memperkuat daya saing bangsa.
Studium Generale ini ditutup dengan kutipan dari Alvin Toffler yang menjadi prinsip Ben dalam berbisnis, "Orang yang buta huruf di abad ke-21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, melainkan mereka yang tidak bisa belajar, membuang ilmu lama, dan belajar kembali (learn, unlearn, and relearn)".



.jpg)
.jpg)


